AIP HIPPY: KEMERDEKAAN BUKAN SEKADAR PERAYAAN — RAKYAT WAJIB MENJAGA RUMAH PERJUANGAN NANI WARTABONE
KASUSNEWS | GORONTALO, 18 AGUSTUS 2026 – Di tengah gemuruh peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, Aip Hippy, warga Kota Gorontalo sekaligus keluarga besar pejuang kemerdekaan Almarhum Nani Wartabone, menyampaikan peringatan yang menyentuh hati. Menurutnya, kemerdekaan bukan sekadar upacara, lomba, atau pengibaran bendera — melainkan hasil perjuangan nyata yang berdarah-darah, yang berlangsung tepat di Rumah Perjuangan ttersebut.
“Kemerdekaan bukan sekadar perayaan. Ada perjuangan keluarga dan rakyat Gorontalo yang berlangsung di lokasi Rumah Perjuangan, tempat di mana Nani Wartabone bersama rakyat pertama kali berseru MERDEKA pada 23 Januari 1942 — jauh sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945,” tegas Aip Hippy.
Bangunan yang dikenal sebagai Rumah Tinggi atau Eks Rumah Jawatan Kantor Pos itu bukan sekadar tembok dan atap. Di sanalah para pejuang berkumpul, merencanakan, dan berikrar untuk merdeka. Di sanalah suara kemerdekaan pertama kali bergema di bumi Serambi Madinah, sebelum seluruh negeri mengikutinya.
JIKA SAKSI DIHANCURKAN, DENGAN APA KITA MERAYAKAN
Aip Hippy menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas pembongkaran bangunan bersejarah tersebut.
“Kita merayakan kemerdekaan, tapi saksi bisu yang melahirkannya justru diabaikan, bahkan dirubuhkan. Bagaimana kita bisa berteriak MERDEKA di atas reruntuhan sejarah sendiri? Bagaimana kita mengajarkan kemerdekaan kepada generasi mendatang jika buktinya kita hancurkan dengan tangan sendiri?”
Ia menegaskan, perjuangan itu bukan milik pejabat atau penguasa semata, melainkan milik keluarga pejuang, milik rakyat Gorontalo yang berkorban, dan milik setiap anak bangsa. Rumah Perjuangan itu adalah tempat di mana pengorbanan tersebut terjadi.
KEMERDEKAAN ADALAH MENJAGA, BUKAN MENGHANCURKAN
“Kemerdekaan bukan hanya soal bebas dari penjajah dulu. Kemerdekaan yang sejati adalah bebas menghargai sejarah sendiri, bebas menjaga warisan leluhur, dan bebas dari kesewenang-wenangan yang merusak bukti perjuangan,” ujarnya.
Kepada seluruh pihak, ia mengingatkan: perayaan kemerdekaan belum selesai selama Rumah Perjuangan belum terjaga.
“Karena kemerdekaan itu bukan cuma dirayakan — ia harus dijaga, dihormati, dan diwariskan utuh kepada anak cucu,” pungkasnya.
(SP 04)


