BREAKING NEWS

Densus 88 AT Polri Bekali 775 Siswa SMA di Palembang Cegah Paham IRET di Era Digital

KASUSNEWS | PALEMBANG – Satgaswil Pencegahan Sumatera Selatan Densus 88 AT Polri menggelar kegiatan wawasan kebangsaan dan pencegahan Ideologi Radikal Ekstremisme serta Terorisme (IRET) di dua sekolah menengah atas, yaitu SMA Maitreyawira dan SMA Negeri Sumatera Selatan, Jumat (17/7/2026). Sebanyak 775 siswa, guru, dan staf turut hadir dalam upaya bersama membentengi generasi muda dari ancaman paham radikal yang kini menyebar masif lewat ruang digital.

Kegiatan pertama berlangsung di SMA Maitreyawira pada pukul 08.00–09.45 WIB yang diikuti 475 peserta. Rangkaian kegiatan memadukan Pembentukan Karakter Kebangsaan lewat Latihan Teknik Dasar Baris Berbaris (LTBB) sekaligus edukasi pencegahan IRET.

Tim Cegah Satgaswil Sumsel yang hadir terdiri dari IPDA Fachrurozi, S.H., Brigadir Putra Yesa, S.H., M.H., Brigadir Wahyu Ansori, S.H., M.H., dan Briptu Achmad Nur Rohman, S.H. Materi utama disampaikan Brigadir Putra Yesa, S.H., M.H., yang memaparkan dasar hukum tugas pencegahan Densus 88 AT Polri, empat konsensus dasar negara, serta penguatan nilai Pancasila dan toleransi antarumat beragama.

Fokus utama disampaikan pada modus baru penyebaran paham IRET yang kini banyak memanfaatkan media sosial hingga permainan daring. “Radikalisme bisa menyasar semua kalangan agama, dan generasi muda adalah target utamanya. Karena itu, kewaspadaan orang tua serta kepekaan siswa terhadap aktivitas dunia maya menjadi hal yang sangat penting,” tegasnya.

Para siswa juga dibekali cara mengenali ciri akun dan situs penyebar paham radikal, alur perekrutan, serta pemahaman kelompok ekstremisme berbasis kekerasan seperti RMVE, IMVE, hingga NVE. Contoh perilaku intoleransi di lingkungan sekolah turut dibahas agar siswa lebih kritis dan tidak mudah terpengaruh propaganda yang merusak. Usai sesi pemaparan, kegiatan dilanjutkan LTBB untuk membangun disiplin, kekompakan, dan semangat cinta tanah air.

Di hari yang sama pukul 07.30–09.00 WIB, kegiatan serupa digelar di SMA Negeri Sumatera Selatan dalam rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang diikuti 300 siswa. Narasumber Briptu Muhammad Alfarezi, S.H., menegaskan terorisme bukan lahir dari satu agama tertentu, melainkan perbuatan kelompok yang menjadikan agama sebagai alasan untuk melegalkan tindakan kekerasan.

 

“Terorisme bermula dari sikap tidak toleran, berkembang menjadi radikalisme, dan berpotensi melahirkan tindakan teror. Kita harus memahami itu sejak dini,” ujarnya.

Materi yang disampaikan meliputi definisi IRET, klasifikasi ancaman, cara penyebaran lewat media sosial, hingga tren perekrutan yang menargetkan anak muda. Siswa juga diajak kembali memperkuat empat pilar kebangsaan: Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. “Tangkal paham radikal dengan memperkokoh pemahaman agama, wawasan kebangsaan, serta kemampuan berpikir kritis. Jadilah selektif dalam menerima informasi di media sosial,” pesan Briptu Alfarezi.

Kepala SMA Negeri Sumatera Selatan, Iswan Djati Kusuma, S.Pd., M.Si., mengapresiasi langkah ini. “Penguatan wawasan kebangsaan sejak dini sangat penting agar siswa memiliki daya tangkal yang kuat terhadap paham yang bertentangan dengan jati diri bangsa,” ujarnya.

Kedua kegiatan berjalan interaktif dan mendapat sambutan hangat dari seluruh warga sekolah. Satgaswil Sumsel Densus 88 AT Polri berkomitmen terus bersinergi dengan lembaga pendidikan di Sumatera Selatan untuk memutus mata rantai penyebaran paham IRET sejak dini.

 

 (Amel)

Posting Komentar