Tancap Gas Seusai Dilantik, Kepala BGN Luncurkan 9 Langkah Strategis Reformasi Program Makan Bergizi Gratis
KASUS NEWS | JAKARTA – Segera setelah dilantik menjabat sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik Sudaryati Deyang langsung bergerak cepat mengumumkan sembilan langkah strategis untuk mereformasi penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Fokus utama kebijakan ini adalah mewujudkan efisiensi penggunaan anggaran, tanpa mengurangi jumlah penerima manfaat maupun menurunkan kualitas layanan yang diberikan.
Dalam keterangannya, Nanik menyampaikan bahwa sebelumnya anggaran yang dialokasikan untuk program ini pada tahun 2026 mencapai Rp 335 triliun. Setelah dilakukan penyesuaian dan pemangkasan, besarannya kini ditetapkan menjadi Rp 268 triliun. Meskipun mengalami pengurangan, pihaknya tetap berkomitmen mengelola dana tersebut sebaik mungkin.
“Kami konsisten, hal pertama yang kami lakukan adalah berusaha mencapai efisiensi yang maksimal. Meski anggaran saat ini tinggal Rp268 triliun, kami berharap angka ini masih bisa diturunkan lagi ke depannya, namun satu hal yang pasti: kualitas layanan dan manfaatnya tidak boleh berkurang sedikit pun,” tegas Nanik.
Berikut adalah sembilan gebrakan strategis yang diterapkan untuk memperbaiki kinerja program tersebut:
1. Refokuskan Penerima Manfaat
Prioritas utama ditujukan kepada kelompok 3B, yaitu ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, serta anak sekolah hingga jenjang Sekolah Dasar. Hasilnya terlihat dalam waktu singkat, di mana hanya dalam dua minggu jumlah penerima manfaat kelompok 3B meningkat menjadi 22 juta orang, setelah diberikan peringatan tegas kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang belum melayani sasaran utama ini.
2. Terapkan Moratorium Pembangunan Dapur Baru
Pembangunan maupun pendaftaran dapur baru dihentikan sementara waktu. Dari sekitar 27.000 dapur yang sudah beroperasi saat ini, sebagian besar diketahui berlokasi di daerah perkotaan dan wilayah aglomerasi, sehingga penambahan fasilitas baru dianggap belum mendesak.
3. Lakukan Pembenahan Dapur yang Sudah Ada
Setiap dapur yang berdiri akan melalui proses evaluasi ketat terkait keamanan pangan, kelengkapan fasilitas, hingga kompetensi sumber daya manusianya. Dapur yang tidak memenuhi standar layanan yang ditetapkan akan ditangguhkan operasionalnya hingga diperbaiki.
4. Perluas Jangkauan ke Wilayah 3T
Program akan lebih difokuskan menjangkau wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar tanpa harus membangun gedung dapur baru yang memakan biaya besar. Pendekatan khusus disusun agar layanan tetap dapat diterima masyarakat di daerah pelosok.
5. Pemetaan Kebutuhan Bersama Kemendikdasmen
Bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, dilakukan penghitungan jumlah dapur yang ideal di setiap daerah berdasarkan data jumlah siswa, kapasitas layanan, serta kondisi nyata lapangan. Hal ini bertujuan agar tidak ada fasilitas yang dibangun secara mubazir.
6. Cari Sumber Pembiayaan Alternatif
Ke depannya, pelaksanaan MBG tidak lagi bergantung sepenuhnya pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Pihak BGN akan mengoptimalkan sumber pendanaan tambahan, seperti dana Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan dari BUMN, hibah lembaga internasional, hingga kerja sama investasi dengan pihak swasta.
7. Optimalkan Fasilitas yang Sudah Tersedia
Pembangunan dapur baru tidak lagi menjadi keharusan jika sudah ada fasilitas yang bisa dimanfaatkan, seperti kantin sekolah, dapur umum, atau sarana pengolahan pangan yang telah ada di lingkungan masyarakat.
8. Perkuat Koordinasi Lintas Lembaga
Hubungan kerja antar-kementerian dan lembaga akan diperketat guna menyusun pemetaan wilayah yang akurat, menghitung kebutuhan, menilai kapasitas layanan, hingga memperkuat sistem pengawasan program secara menyeluruh.
9. Geser Fokus dari Kuantitas ke Kualitas
Target mengejar angka penerima manfaat hingga 82 juta orang tidak lagi menjadi prioritas utama. Alih-alih berfokus pada jumlah, program kini lebih mengutamakan kualitas layanan serta dampak perbaikan status gizi yang nyata bagi mereka yang paling membutuhkan.
Kesembilan langkah reformasi ini telah dilaporkan dan disampaikan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto sebagai bentuk komitmen baru BGN untuk menghadirkan Program Makan Bergizi Gratis yang lebih tepat sasaran, efisien, dan membawa manfaat nyata bagi kesejahteraan rakyat.
“Tujuan utama kami bukan sekadar mengejar angka statistik, melainkan memastikan setiap anak, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita mendapatkan asupan gizi terbaik. Ini adalah investasi penting untuk mewujudkan masa depan Indonesia yang lebih sehat dan berkualitas,” pungkas Nanik.
[Hans]
