Lestarikan Kearifan Lokal, Warga Cengkuk Gelar Tradisi "Nganyaran Pare Anyar" Wujud Syukur Panen Raya
KASUS NEWS | SUKABUMI – Nuansa syukur dan kebersamaan terasa kental di Kampung Cengkuk, Desa Margalaksana, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi. Pada Selasa (9/6/2026), warga setempat menggelar tradisi tahunan "Nganyaran Pare Anyar" atau perayaan makan nasi dari padi baru hasil panen perdana. Kegiatan ini menjadi bukti nyata keteguhan masyarakat adat dalam mempertahankan warisan leluhur Kasepuhan Ciptagelar di tengah arus modernisasi.
Tradisi yang dilaksanakan setahun sekali seiring musim panen ini bukan sekadar pesta makanan, melainkan ritual sakral yang mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Ruhyat, tokoh masyarakat sekaligus Kepala Dusun Cengkuk, menjelaskan bahwa "Nganyaran Pare Anyar" sejatinya berpusat di rumah Pupuhu atau Kasepuhan setempat. Namun, untuk mempererat ikatan sosial, pelaksanaannya kini juga merambat ke rumah-rumah warga yang telah menyelesaikan panen.
"Secara adat, pusatnya memang di rumah Kasepuhan. Tapi sekarang kita rayakan juga di masing-masing rumah warga yang sudah panen. Ini bentuk silaturahmi dan berbagi rezeki," ujar Ruhyat di sela-sela kesibukan menyiapkan hidangan.
Dalam penyajian hidangan "Nganyaran", unsur alam sangat dominan. Aneka lauk pauk seperti daging hewan ternak dan ikan sungai disajikan berdampingan dengan nasi pulen dari padi baru. Ruhyat menjabarkan bahwa variasi lauk tersebut mengisyaratkan rasa syukur atas limpahan kekayaan alam yang dianugerahkan kepada masyarakat Cengkuk.
Prosesi pengolahan padi hingga menjadi nasi pun dilakukan secara bergotong royong. Mulai dari menumbuk padi menggunakan alu dan lesung tradisional hingga memasak bersama, semua melibatkan partisipasi aktif warga. Setelah matang, nasi dan lauk tersebut kemudian dibagikan kepada seluruh tetangga tanpa terkecuali.
"Inti dari Nganyaran ini adalah berbagi. Dari proses tumbuk padi sampai makan bersama, semua dilakukan bareng-bareng. Tetangga kanan kiri harus ikut merasakan hasil panen pertama ini. Itu wujud solidaritas kami," tambah Ruhyat.
Bagi masyarakat Kampung Cengkuk yang masih teguh memegang prinsip Kasepuhan Ciptagelar, tradisi ini adalah identitas yang tidak bisa dipisahkan. Ruhyat menegaskan bahwa meskipun zaman telah berubah dan teknologi semakin canggih, komitmen untuk melestarikan "Nganyaran Pare Anyar" tidak akan luntur.
"Bagi kami, adat ini sudah tertanam sejak lahir. Di era modern sekalipun, kami tetap akan mempertahankannya. Karena bagi masyarakat adat, meninggalkan tradisi berarti meninggalkan jati diri dan penghormatan kepada leluhur," pungkasnya dengan tegas.
Kegiatan "Nganyaran Pare Anyar" di Kampung Cengkuk ini tidak hanya menjadi momen pelestarian budaya, tetapi juga sarana edukasi bagi generasi muda untuk memahami pentingnya menjaga keseimbangan alam dan memperkuat kohesi sosial melalui nilai-nilai gotong royong yang masih lestari hingga hari ini.
[Hans]

