IRONIS! Pemerintah Minta Media "Memuliakan" Koperasi Merah Putih, Padahal di Lapangan Penuh Skandal
KASUS NEWS | BANDUNG – Terjadi kontras yang sangat mencolok antara instruksi pemerintah dengan realita yang terjadi di lapangan.
Saat ini, program Koperasi Desa Merah Putih justru banyak menyisakan tanda tanya besar dan sarat dugaan pelanggaran, bahkan banyak insan jurnalis yang seolah "terbungkam" karena topik ini dinilai terlalu sensitif atau belum begitu menarik untuk diangkat secara kritis.
Namun, pemerintah justru mengambil langkah sebaliknya. Melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), pemerintah justru mendorong media massa untuk mengambil peran strategis mengangkat program ini sebagai narasi utama keberhasilan.
Seperti dilansir dari Kompolmas TV, dalam workshop media bertajuk "Cerita Koperasi Desa, Jadi Berita Bermakna" yang diselenggarakan oleh Direktorat Ekosistem Media Komdigi di Bandung, Rabu (22/4/2026), pemerintah meminta media untuk membesarkan kisah koperasi ini.
Mereka ingin narasi yang dibangun adalah bagaimana koperasi ini menjadi motor pembangunan ekonomi rakyat yang diklaim inklusif dan berkelanjutan.
Sayangnya, himbauan untuk memuliakan program ini terasa sangat janggal dan tidak sesuai dengan fakta yang terjadi di masyarakat.
Dalam realita yang terjadi di lapangan, mulai dari proses administrasi, pengajuan tender, hingga proses pembangunan gerai koperasi, banyak sekali ditemukan dugaan pelanggaran Aturan Operasional Administrasi (AOA).
Belum lagi merebaknya dugaan skandal korupsi, permainan anggaran, hingga praktik pemotongan dana yang merugikan kontraktor dan berpotensi menurunkan kualitas bangunan.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar di kalangan awak media dan masyarakat:
Apakah dorongan ini murni untuk sosialisasi, atau justru upaya untuk menutupi berbagai kejanggalan dan dugaan korupsi yang sedang terjadi?
Sementara pemerintah sibuk memoles citra positif lewat media, publik justru menuntut kejelasan dan transparansi terkait alur dana serta dugaan maladministrasi yang kini menjadi sorotan tajam.
(Hans)
